Senin, 12 Oktober 2015

Aku!

Adalah aku
Angin yang akan menggugurkan daunmu sebelum disentuh
Aku bisa. Coba saja!

Senin, 13 Juli 2015

Bibir Merah Sumba

Merah sumba


Bibir itu
Membuatku menaruh cemburu
Kepada setiap orang yang berlalu
Memandangnya, menginginkan bibir itu

Harum
Ranum

Lama-lama aku bosan
Dan membiarkan merah sumba itu pudar terbasuh liur
Hati; Jangan tergiur!

Puisi; Jangan Bersedih

Puisi..
Apakah kau akan tetap tinggal ketika huruf satu persatu mulai tanggal?
Apakah kau akan tetap ada saat rasa tak lagi peka 'tuk meluapkannya?
Apakah kau akan tetap membumi kala penyair tergantikan olehku?
(aku tak yakin kalau soal ini)

Kalau saja aku bisa meyakinkan mereka bahwa April itu syukur atas lahirmu..
Bahwa April itu milikmu..
Tapi mereka hanya tahu Kartini di bulan itu dan bukan dirimu..

Siapa peduli

Selepas melupa tanpa sapa!

Selarik sajak tiba-tiba muncul dari dalam mimpi buruk:
Menjelma menjadi ambyar kamboja pada aroma birahi yg menyeruak laju di tikung masa..
Alangkah pahitnya rindu, sayangku!
Sekali lagi ku kabarkan pedihnya risau ke puncak hitam
Pada segala malam sambil memenggal pucuk surga yg memahat namamu dengan liar liur kata asmara yang rabun dalam pekatnya kabut..
:: Selepas melupa tanpa sapa!

KETUK

..

Ku anggap pintu itu sudah mulai rapat tertutup..
Dan aku berpikir;
Sudahlah. Mungkin tak usah dan berhentilah mengetuk!

Dari beranda rumah yg megah, aku memandang..
Tersadari ternyata ada tamu sedang berbincang dengan suguhan sangat spesial..
Mungkin sebaiknya aku balik badan, lantas segera pulang..

Sembari tersenyum, aku menahan..
Karena tak ingin mengusik suasana yg sedang terbangun..
Mulailah aku berjalan.. Mengayun..
Menuju pagar;
Membuka keluar..

Ku pejamkan mata, seketika..
Berharap pagi segera datang & aku masih terjaga di tempat yg sama..

Lalu, apa aku harus melanjutkan cerita?

Kunanti Mimpi


Gusti..
Malam ini
Beri aku mimpi
Ku berharap indah sekali
Sebagai petunjuk, soal yang di ujikan esok hari
Segera! Kunanti

Ku Bilang,”.....”



Jam dinding itu jangan diajak bicara
Terlihat wanita setengah baya terus saja memandang arloji yang tak sama dengan jarum panjang yang terus memutar
Penghabisannya akan tamat kali ini
Ku bilang, “Apakah semua sudah termaafkan?”

Wanita itu kembali mondar-mandir
Menunggu apa-apa yang seharusnya datang
Dilihatnya di tepi jalan, namun hanya keranda mayat berjajar rapi menari menyambut
Ku bilang, “Masih saja keras kepala!”

Aku mengajakmu berdialog
Ku bilang, “Penjalanan ke akhirat jangan dibebani dengan dendam kesumat”
Wanita itu memalingkan muka
Ku bilang, “Sederhanalah membenci.”
Wanita itu menyumpal telinga
Ku bilang, “Bertobatlah!”
Wanita berteriak, lantas tergeletak