Senin, 13 Juli 2015

Sajakku, Sajak Abu-Abu?




Kebetulan tanggal merah
Kali ini aku bisa menerima desa

Di bawah awan biru
Ia riang bercengkrama dengan musim
Sengaja ia tak memberitahuku tentang ikan asin di atas meja
Sayur asam yang begitu asin buatan ibu
Ah...... mana mungkin kau mau!
Katanya

Di kota, burung-burung tak lagi putih
Akupun merasakannya begitu
Mungkin ia pikir aku ini sangkar
Yang ikut serta menjaga bahasa abu-abu
Entahah aku juga bingung
Aku tak bisa menerjemahkan  diriku sendiri
Padamu

Jadi begini
Tafsirkan aku sebagai perempuan tua pembawa bakul
Atau laki-laki hitam bercangkul
Atau sebagai perawan pematang di antara barisan kacang panjang
Atau....
Atau tolong ciptakan  makna bagiku
Apa saja

Senin, 08 Juni 2015

Lahir: Bukanlah Kehendakku!

Kali ini
Aku bernasib sial
Mengapa harus dilahirkan?

Dalam birahi
Tumbuh nafsu busuk
Dan aku di sini
Terjerumus pada dunia penuh tipu daya

Jika boleh meminta
Untuk mereka; dua orang yang menikmati desah
Lantas memaksaku ada di ruang bangkai ini
Bertanggung jawab atasku!

Bidadari Senja

Meski pagi menawarkan embun nan riuh yang slalu setia temani kopimu hingga adukan kesekian.
Meski siang bersekutu dengan matahari sekedar mengerling, menyelinap pada celahmu di antara padi-padi yang menguning.
Meski malam sengaja memunggungimu lewat jutaan bintang dengan cahaya kerlip pengusir gulita.
Biarlah aku tetap menjadi aku; gadis pemburu senja yang slalu jingga menghangatkan coklat pada kedua bola matamu dalam doa..
Tetaplah!

IBUKU TAK SEBAIK IBUMU..

Ibuku tak sebaik ibumu kawan
Aku punya mulut untuk bicara tapi ia tak pernah mengizinkan telinganya untuk mendengarkanku
Ibuku tak sesabar ibumu kawan Jika aku keliru maka sapu atau apapun itu akan mendarat di tubuhku
Ibuku tak menerima kesalahan kawan Baginya segala harus seperti kehendaknya harus sempurna tanpa ada cela
Tapi kawan, aku tak akan menangis jika ibumu tiada. Aku mungkin orang yang paling membenci ibuku di antara semua orang yang dikenalnya
Tapi aku mencintainya lebih dari semua orang yang kukenal

***

Gadis itu turun dari panggung, lalu menangis di pelukan ayahnya, “ibumu seharusnya menjadi ibu paling beruntung di dunia karena memilikimu, nak!”

Dia; Salah Satunya Merusak Isi Kepalaku

Dan guru pun sekarang bermuka palsu
Mengubah nilai palsu lantaran berteman dengan amplop baru
Amplop bersampul putih dengan isi tumpukan kertas merah jambu

Siswa pandai kini tak lagi dipakai
Yang terpenting semua beres, urusan selesai
Urusan perut, asal kenyang tak perlu malu
Walau awalnya menolak tersipu tapi akhirnya ya mau

Segalanya tumbuh dan berkembang dengan moral payah
Cita-cita bisa teraih dengan sangat mudah
Asal ya begitulah...
Amplop mana amplop: datanglah!

Dan kini
Mereka yang berhasil menata dasi
Memakai jas rapi
Dengan muka berseri
Hasil melapisi nilai dengan amplop lima centi
Meneriakkan kegembiraan tanpa sungkan lagi

“Ah.. jangan berpikir terlalu berat!”, kata televisi
Nyeletuk membangunkanku dari mimpi

24 Oktober 2014